Tegartia's Blog

Desember 14, 2009

SEJARAH PENJAS DAN OLAHRAGA YUNANI

Filed under: Tugas Kuliah — Tag:, , , , — tegartia @ 1:08 am

SEJARAH OLAHRAGA (History of Sport)

Sejarah olahraga dapat mengajarkan kepada kita arti mengenai perubahan masyarakat dan mengenai olahraga itu sendiri.

Olahraga sepertinya melibatkan kemampuan dasar manusia yang dikembangkan dan dilatih untuk kepentingannya sendiri, yang sejalan dengan dilatih demi kegunaannya. Ini menunjukkan bahwa olahraga itu mungkin sama tuanya dengan keberadaan manusia itu sendiri, yang memiliki tujuan, dan adalah cara yang berguna untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menaklukkan alam dan lingkungan.

SEJARAH OLAHRAGA BANGSA YUNANI PURBA

Keadaan alam memiliki andil yang tidak kecil dalam pembentukan peradaban Yunani. Keadaan geografis ini juga mempermudah adanya desentralisasi politik. Gunung-gunung dan teluk-teluk di Yunani yang tak terhitung banyaknya menghalangi komunikasi melalui darat. Lembah-lembah dan dataran-dataran rendah yang terpisah-pisah merupakan unit-unit geografis dan ekonomi yang bersifat alami. Juga merupakan pemisah kesatuan unit politik yang disebut polis atau negara kota, yang wilayahnya meliputi kota itu sendiri dan daerah-daerah sekitarnya.

Yunani walaupun negeri kecil, memiliki banyak polis. Dua polis yang terkenal dan paling menonjol dalam hal kegiatan jasmani adalah Sparta dan Athena. Kedua polis itu juga dipergunakan untuk memberi ilustrasi adanya dua kutub pencapaian yang berbeda dalam sistem pemerintahan di Yunani. Sparta memiliki sistem pemerintahan oligarkhi militer yang keras dan terisolasi, sedang Athena merupakan pusat percobaan besar di bidang demokrasi.

Bangsa Yunani menganut kepercayaan terhadap dewa-dewa (polytheisme). Dengan membaca karya Homerus (seorang penyair buta dari Asia Minor) memudahkan pemahaman tentang adanya hubungan yang erat sekali antara dewa-dewa dan manusia sebagaimana kepercayaan orang Yunani yang telah mengakar itu. Keluarga besar dewa-dewa Yunani tinggal di gunung salju Olympus (bagian utara Yunani) yang diperintah oleh Zeus dan istrinya, Hera.

SPARTA

Polis Sparta, yang terletak di dataran rendah Laconia, betul-betul terbentuk pada tahun 600 SM. Sparta membangun konstitusinya di atas sistem kasta yang kuat, untuk menjaga kemungkinan timbulnya pemberontakan baik dari dalam maupun dari luar, dengan membagi penduduk menjadi tiga kelompok, yaitu: (1) Citizens atau orang-orang Sparta sendiri, merupakan 5%-10% dari seluruh penduduk dan mempunyai hak pilih, terdiri dari para penguasa dan tentara; (2) Kaum Helot adalah sebagian besar penduduk Sparta yang terdiri dari kaum tani, buruh tani, dan pelayan orang-orang Sparta; (3) Kaum Perioikoi atau orang yang tinggal di pinggiran (sub-urban), hidup sebagai petani, pekerja tambang, dan pedagang.

Sistem Sparta yang militeristis dan defensif menuntut latihan kemiliteran yang keras dalam masyarakat. Penduduk hidup dalam tradisi yang penuh kedisiplinan. Begitu pula dengan sistem pendidikannya, juga bersifat konservatif-sosial dan aristrokrastis yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga-tenaga terampil di bidang kemiliteran agar mampu membela serta mempertahankan negara dan bangsa dari serangan bangsa lain. Pendidikan di Sparta hanya ditujukan pada pendidikan kejasmanian saja dan mengabaikan pendidikan intelektual, sehingga Sparta tidak mempunyai ahli-ahli filsafat, sejarah ataupun pengarang. Sifat aristrokratis dan sosialis dalam pendidikan di Sparta terlihat pada sifat solidaritas yang terdapat pada kaum yang berkuasa.

Pada usia 7 tahun, anak laki-laki harus meningggalkan orang tuanya untuk memasuki pusat pelatihan militer. Mereka dididik berbagai dan diindoktrinasi untuk cinta kepada tanah air. Membaca dan musik juga diajarkan, namun lebih dari itu mereka juga berlatih berkelahi, pentathlon (lempar cakram, lempar lembing, lompat jauh, dan gulat), serta menggunakan senjata. Gadis-gadis juga menjalankan latihan fisik yang keras yang juga nantinya dapat menjadi seorang ibu yang kuat pula. Pada usia 18 tahun, remaja-remaja tersebut disebar keseluruh daerah untuk bertugas sebagai pengawas kaum Helot dan Perioikoi, juga bertugas sebagai pengawas daerah. Berburu merupakan salah satu bentuk ujian yang digunakan untuk menentukan tingkat kemampuan tubuh yang dicapai. Pada usia 30 tahun , setelah dibina dan dilatih dengan cara berat yang penuh tantangan dan resiko, para pemuda diakui dan diberi hak sebagai orang dewasa. Pada masa dewasa inilah mereka baru diijinkan untuk berumah tangga dan berpolitik. Pendidikan kepada anak-anak gadis di Sparta ditekankan pula pada perkembangan jasmaninya, sehingga mereka juga melakukan latihan jasmani bersama dengan para pemuda.

ATHENA

Polis Athena (terletak di Attica, Yunani Timur) merupakan polis yang paling menarik, berpengaruh, bebas, dan makmur diantara polis-polis lainnya . Pengaruh kekuasaanya mencapai puncaknya selama pemerintahan Pericles (461-429 SM).

Penduduk Athena terdiri dari penduduk asli, budak dan metich (penduduk asing). Sistem pendidikan di Athena bersifat liberal, individual, dan demokratis untuk menuju pada Epebhe Athena, yaitu warga negara yang harmonis, sehat dan kuat, cerdas otaknya, serta luhur budi pekertinya. Semua orang mendapatkan pendidikan sesuai dengan kedudukannya di masyarakat. Orang kaya dan bangsawan harus belajar ilmu pengetahuan dan kebudayaan, orang miskin belajar bertani dan kerajinan tangan, sedangkan anak-anak belajar membaca dan berenang.

Sebelum usia 7 tahun pendidikan bagi anak-anak merupakan tanggung jawab keluarga. Pada usia 7 tahun keatas, anak-anak diserahkan kepada drammatist untuk belajar membaca, berhitung, dan menulis, serta belajar ilmu musik dan menyanyi dari seorang chitarist. Anak-anak usia 14-18 tahun diberi latihan-latihan jasmani (berupa senam) dari seorang paidotribe. Setelah usia 20 tahun, mereka diakui sebagai warga negara penuh, berhak dan berkewajiban seperti orang dewasa.

Latihan-latihan jasmani untuk anak-anak orang kaya dilakukan gymnasium, dan yang lainnya di palaestra. Perlu pula diketahui bahwa mereka, kaum pria maupun wanita bangsa Athena, melakukan latihan-latihan jasmani dengan gymnos (telanjang), yang betujuan untuk memberikan kesempatan pada otot-otot tubuh dapat berkembang dengan sebaik-baiknya tanpa rintangan.

Untuk memuja dewa-dewa, bangsa Yunani mengadakan suatu pesta. Adapun pesta tersebut yang dikenal 4 macam, sebagai berikut. (1) Olympia. Pesta ini diadakan setiap 4 tahun sekali digunung Olympus yang bertujuan untuk menghormati dewa Zeus. Meskipun pesta ini hanya berlangsung selama lima hari, namun orang-orang Yunani memandangnya dengan begitu agung. Setiap peserta sangat diperhatikan agar dapat datang dan kembali dalam keadaan selamat, serta selama mengikuti pesta ini serta diharapkan tidak menemui rintangan apapun. Pesta Olympia memperlombakan lari, lompat jauh, lompat tinggi , dan lempar cakram. Juga lomba menggubah musik, puisi, dan meniup terompet, bahkan kontes kecantikan dan minum. Para pemenang dalam setiap lomba menerima mahkota yang terbuat dari daun salam. Cabang olahraga yang terkenal adalah marathon. (2) Phytia. Mula-mula pesta ini merupakan pesta musik untuk menghormati dewa Apollo (dewa cahaya dan kebenaran), lalu lalu ditambah dengan pesta olahraga. Tempat penyelenggaraannya di Delphi dan waktunya 4 tahun sekali. Olahraga yang paling menonjol da lam pesta ini adalah pacuan kuda dan perlombaan kereta (chariot race). (3) Isthmia. Pesta ini berlangsung di Chorintus. Acara pertandingannya yaitu berkuda, bersampan, dan musik, yang tujuannya untuk menghormati dewa Poseidon (dewa laut). Cabang olahraga yang lain meliputi main bola, angkat besi, tinju, gulat, pertarungan antar gladiator, dan perkelahian antara manusia dengan binatang. (4) Nemea. Pesta ini bertujuan untuk menghormati dewi Hera (istri dewa Zeus), dan diselenggarakan di Acropolis. Cabang-cabang olahraga yang diperlombakan hampir sama dengan pesta Isthmia.

Keharmonisan antara pembentukan gymnist (kejasmanian) serta musis (kerokhanian dan kesenian) pada abad keempat agak mundur dan terganggu karena adanya beberapa faktor, yaitu: (1) timbulnya perkembangan kebudayaan dan pengetahuan; (2) mundurnya hidup keagamaan dan nasionalisme; dan (3) kekayaan serta hidup serba mewah yang meliputi para pemuda.



5 Komentar »

  1. bagus sekali artikel yang di tulis bisa membantu kita dalam mengetahui sejarah penjas

    Komentar oleh muhamad — November 2, 2011 @ 2:03 am

  2. enak jg bacanya lw kengkap begini,,,

    Komentar oleh abd.rahim — Maret 14, 2012 @ 10:03 pm

  3. membantu sya jadi bisa ngerjain tugas sejarah..🙂
    trimakasih

    Komentar oleh siska — Mei 29, 2012 @ 2:16 pm

  4. Artikelnya bgus untuk di pelajari

    Komentar oleh Bunnnaaaa — Mei 30, 2012 @ 4:43 am

  5. membantu banget nih saya lg ngerjain tugas

    Komentar oleh sheren — Juli 22, 2013 @ 6:14 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: